Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Batik Sebagai Media Dakwah

Batik adalah hasil karya bangsa Indonesia yang merupakan perpaduan antara seni dan teknologi oleh leluhur bangsa Indonesia. Batik Indonesia dapat berkembang hingga sampai pada suatu tingkatan yang tak ada bandingannya baik dalam desain/motif maupun prosesnya. 

Corak ragam batik yang mengandung penuh makna dan filosofi akan terus digali dari berbagai adat istiadat maupun budaya yang berkembang di Indonesia. Motif Batik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, motif adalah corak atau pola. Motif adalah suatu corak yang di bentuk sedemikian rupa hinga menghasilkan suatu bentuk yang beraneka ragam.

Batik sendiri dapat diolah menjadi berbagai macam hal seperti seragam batik,wayang batik dan berbagai macam bentuk olahan lainya. Oleh sebab itu tidak dapat dipungkiri apabila batik bisa dijadikan metode dakwah dalam islam.
Batik sebagai media dakwah Sumber Pinterest

Batik di Era Walisongo

Bahkan sudah sejak zaman walisongo batik sudah dijadikan sebagai media dakwah.

Sunan kalijogo dikenal sebagai pencetus surjan lurik. Surjan adalah model busana adat jawa,Khusunya jawa tengah dan Yogyakarta, Yang biasanya digunakan oleh kaum laki laki. Sunan kaligaja mengembangkan surjan lurik, Bermotif garis garis vertikal. Yang biasanya disebut dengan pakaian taqwa.

Pemakaian surjan biasanya dipaukan dengan blangkon dan kain jarik. Beliau sering menggunakan pakaian ini sebagai dakwah sehingga banyak yang datang kepada beliau lalu menanyakan yang bermula dari pakaian sambil beliau memasukan ajaran agama islamLalu apakah dengan menggunakan batik yang adalah traidisi menjadi menyalahi hukum islam? tidak,Ternyata model dakwah ini juga sama diterapkan Rasulullah ketika berhadapan dengan budaya dan warisan Arab. Rasulullah mendakwahkan Islam bukan membuang tradisi yang ada tetapi memberikan nafas Islam dalam tradisi dan budaya.
Surjan batik Sumber:https://mariascraftyspace.blogspot.com/


Batik Sebagai Metode Dakwah

Dakwah dalam konteks inilah sebenarnya harus dipahami bukan membuang tradisi sejauh tidak bertentangan dengan syariat, tetapi mengisi tradisi dengan makna yang islami. Jadi proses mengislamkan bukan sebagai proses islamisasi, tetapi internalisasi nilai Islam dalam tradisi.Jika dilihat sebenarnya cara dakwah Nabi yang berhadapan dengan tradisi ada tiga pola

1. Tahmil

pendekatan tahmil, artinya Islam datang dengan menerima dan menyempurnakan tradisi yang sudah ada di masyarakat jahiliyah. Corak seperti ini misalnya terlihat dalam penghormatan Islam terhadap bulan-bulan yang diharamkan pertumpahan darah yang sudah ada di zaman Arab pra Islam.

2. Taghyir

pendekatan taghyir, artinya Islam menerima tetapi merekonstruksi tradisi dengan nilai yang Islami. Dalam prakteknya, tradisi Arab pra Islam masih dilanjutkan tetapi diisi dengan nilai baru. Contoh ini misalnya dilihat dari proses haji yang tetap melaksanakan thawaf dan sai tetapi rubah maknanya bukan menyembah Latta dan Uzaa, tetapi ditujukan untuk mengangungkan Allah.

3. Tahrim

Ketiga, pendekatan tahrim, artinya Islam menghapus tradisi dan kebiasaan yang ada yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, perlu diingat bahwa dalam proses penghapusan inilah Rasulullah sangat hati-hati agar tidak menimbulkan resistensi yang kuat. Misalnya pengharaman khamar yang dilakukan secara bertahap. Islam juga ingin menghapus perbudakan yang dilakukan secara bertahap dengan cara menjadikan membebaskan budak sebagai bagian dari sangsi ibadah.

Jika kita lihat pendekatan dakwah Rasulullah yang berhadapan dengan tradisi masyarakat pra Islam, memiliki kesamaan dengan cara dakwah Walisongo di nusantara. Dakwah kearifan lokal itulah yang diteladani para Wali dalam menyebarakan Islam di nusantara. Walisongo banyak menggunakan pendekatan taghyir dalam berdakwah, tetapi juga tegas menggunakan tahrim dengan model dakwah yang santun dan ramah.

Mengapa Menggunakan Batik?

Dalam hal ini, jika kita lebih jauh melihat seni sebagai bagian dari ekspresi budaya masyarakat kita. Sebenarnya kesenian kita memuat tiga hal utama yaitu tontonan, tuntunan, dan tatanan. Misalnya kita bisa ambil contoh dalam pertunjukan wayang kulit yang ada di Jawa, wayang memuat unsur tontonan yang artinya dalam pertunjukan tersebut ada dimensi hiburan entertaimen, untuk menghibur lara atau menarik sejenak penontonya keluar dari realitas persoalanya

Dengan hal itu, menurut dia, pertunjukan wayang bisa menjadi obat dari kegundahan manusia. Tidak hanya itu wayang juga memuat unsur tuntunan, artinya dalam banyak kesenian kita sebenarnya memuat tuntunan ajakan kepada kebaikan, lebih jauh untuk mengenal Tuhan. Hal ini juga erat kaitanya dengan nilai-nilai pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk nasihat-nasihat kehidupan untuk para penontonya.
Mengapa kain batik Sumber:https://berkeluarga.id/

Sedangkan tatanan dalam kesenian kita sebagai wujud dari tatanan baik dalam skala individu (mikrokosmos), skala social (kenegaraan) maupun makrokosmos, bahkan metakosmos, yang mempunyai makna bahwa setiap apapun yang ada di dunia ini harus dengan aturan yang jelas agar tidak keluar dari jalur yang sudah ditetapkan.

Aturan atau tatanan ini tidak untuk menjadi batasan tetapi bagaimana aturan menjadi bentuk lain dari harmonisasi itu sendiri. Dalam wayang hal ini biasa dikenal sebagai pakem, hal tersebut digunakan untuk menjaga agar seni ini tidak keluar dari ketentuan yang sudah ditetapkan dalam hal ini syariat agama.

Jadi dengan menonton wayang sebagai medium dakwah misalnya tidak seperti orang mendengarkan ceramah agama hari ini yang metodenya hanya nasihat-nasihat verbal yang normatif. Tetapi dengan kesenian dalam hal ini wayang misalnya berbagai instrumen mulai dari cerita, tata panggung, suara tabuhan gamelan, dan tata artistiknya.

Baca Juga : Tips Memilih Sneakers Yang Sesuai Dengan Kakimu

Orang tidak seperti dinasehati secara langsung, tetapi memantik setiap unsur dalam diri manusia dari pikiran, perasaan, imajenasi, dan panca indera untuk dibawa pada esensi terdalam dari ajaran agama. Hal itulah yang dilakukan oleh para wali kita dan salah satu tokoh utamanya adalah Sunan Kalijaga.

melihat itu semua dari apa yang dilakukan oleh para wali bisa dipahami, bahwa seni memang bagian paling halus dan subtil manusia. Maka ketika dakwah meninggalkan itu semua resonansinya tidak akan semassif seperti yang dilakukan para wali terdahulu.

Itulah bebrapa hal mengenai batik sebagai media dakwah. Bagi anda yang ingin menggunakan media dakwah lain seperti artikel dan anda ingin menggunakan jasa orang lain untuk membuat website anda. silahkan kunjungi jasa membuat website. Semoga artikel di atas dapat bermanfaat. Selamat membaca dan terimakasih.



Posting Komentar untuk "Batik Sebagai Media Dakwah"

Berlangganan via Email