Non Muslim Pun Sampai GERAH Dengan Kekerasan Pelajar Di JOGJA

Kekerasan pelajar di Jogja? Barangkali saat ini hal tersebut menjadi isu yang hangat di kota pelajar ini. Ternyata, tak hanya orang Islam yang merasakan resah akan hal tersebut. Masalah ini menjadi masalah umum masyarakat, yang juga mengancam orang Kristen, Katolik, Hindu, Budha bahkan atheis. Menarik fakta yang kami temukan di grup facebook Info Cegatan Jogja. Seorang ibu yang dari namanya dugaan kuat kami beliau bukan muslimah, beliau menulis surat terbuka kepada Sultan HB X. Berikut tulisan ibu Theresia Valentina secara lengkap :

"Kepada Yth. Sultan Hamengkubuwono X dan Kapolda D.I.Y

Dengan ini kami menyampaikan keluh kesah kami, jujur kami sebagai warga Yogyakarta semakin hari semakin waswas, takut akan aksi anak2 nakal apapun itu namanya yg dengan nekat melukai bahkan sampai membuat nyawa orang lain melayang.

Mau sampai kapan Yogyakarta yg di kenal nyaman, aman, tentram akan menjadi rusak namanya? Mau sampai kapan Yogyakarta yg di kenal sebagai Kota Pelajar akan rusak oleh para pelajar yg sedang mencari jati diri dgn cara yg tidak benar?

Tolong dengarkan kami, tolong bantu lindungi kami sebagai warga yg tidak tahu duduk permasalahan mereka .. Mau sampai kapan kami di buat resah oleh tindakan yg sudah masuk dalam tahap kriminal?

Tolong di buat jam malam yg ketat utk para anak2 pelajar atau orang2 yg suka nongkrong tidak jelas .. Adakan patroli tanpa melihat batasan waktu .. Tindak dengan tegas, tanpa melihat mereka masih anak2 atau di bawah umur, jika memang tindakan mereka sudah di luar batas.

Terima kasih"

Tulisan Kekhawatiran Soal Klitih
Tulisan Kekhawatiran Soal Klitih

Menyambung akan hal tersebut, ternyata pada hari Minggu 12 Maret 2017, seorang pelajar mengalami pembacokan dan hingga meninggal, sebagaimana Detik melaporkan sebagai berikut :

"Kasus kekerasan terhadap pelajar hingga tewas kembali terjadi di Yogyakarta. Korban tewas dibacok di lokasi yang dekat dengan kantor pemerintah Balaikota Yogyakarta.

Korban bernama Ilham Bayu Fajar (17) yang merupakan siswa SMP Piri 1 Yogyakarta. Korban diserang sekelompok orang tidak dikenal dengan menggunakan senjata tajam di jalan Kenari yang berada dekat dengan kantor Pemkot Yogyakarta pada hari Minggu (12/03/2017) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.

Korban sempat dilarikan ke RS Islam Hidayatulloh Yogyakarta, namun jiwanya tidak tertolong. Korban mengalami luka di bagian dada depan dan tembus ke belakang karena senjata tajam."

Solusi Klitih di Jogja, Adakah?


Jika pertanyaan itu ditanyakan oleh orang yang benar-benar terbuka, kami dengan pasti akan menjawab ada. Tinggal kita mau mengaplikasikan atau tidak. Sebagaimana disebutkan dalam makalah "DIY Darurat Kekerasan Pelajar, Hilangnya Aset Kebangkitan Negeri" berikut ini. Tulisan lengkap disini.

"Berbagai upaya telah dilakukan, akan tetapi kasus kekerasan pelajar masih terus bermunculan. Hal ini dikarenakan solusi-solusi tersebut tidak menyentuh pada fundamental permasalahan. Berharap hilangnya kekerasan pelajar dalam sistem kehidupan sekuler-kapitalisme adalah perkara yang sangat sulit dilakukan (kalau tidak dapat disebut tidak mungkin dilakukan). Pasalnya, selama produsen kekerasan pelajar tidak dihentikan, maka tindak kekerasan pelajar ini akan terus terulang bahkan bisa jadi lebih parah. Saatnya sistem Kapitalisme dicampakkan dari tubuh umat. Saatnya umat kembali dalam pengaturan Islam kaffah dalam bingkai Khilafah."

Masih dalam makalah tersebut, disebutkan perlunya sistem pendidikan Islam yang akan melahirkan pemuda-pemudi yang berkepribadian Islam, bukan seperti hasil pendidikan kapitalisme saat ini yang minim dengan akhlaq. Perlu juga peran media sebagai penyokong sistem pendidikan untuk memberikan informasi penunjang pembentukan generasi. Bukan media-media penyebar gaya hidup hedonisme sebagaimana kita temui saat ini yang turut andil memicu kekerasan pelajar di Jogja. Yang terakhir, sistem sanksi yang berat dalam Islam akan membuat para pelaku klithih jera. Penerapan kehidupan Islam secara menyeluruh juga akan melindungi baik orang Islam maupun non muslim. Kemudian pertanyaannya, maukah kita menerapkannya? Adakah solusi lain selain Islam?

Komentar