Kaos Islami Keren Untuk Aksi 212 ( Dua Desember 2016)

Mengaitkan aksi 212 (dua Desember 2016) dengan kaos Islami keren bisa jadi jauh api dari panggang. Namun sebetulnya bisa-bisa saja. Mengingat ada banyak hal dalam Islam yang harus diperjuangkan. Dan perlu diingat, saat aksi 4 November kemarin, di media sosial cukup viral soal kaos semut ibrahim. Namun sebelum memperkenalkaos t-shirt ini, ada baiknya kita lihat gambaran umum masalah dari kasus penistaan Al Quran oleh Ahok. Agar kita sebagai umat Islam, semakin cerdas dalam menyikapi problem umat yang muncul ke permukaan. Yup, karena banyak sekali problem umat yang tidak muncul, hanya bisa dinikmati oleh saksi mata disekitar munculnya problem tersebut.

Gambaran Ringkas Kasus Ahok
Menurut pendapat kami, masalah ini muncul sebenarnya bukan berawal dari video penistaan Al Quran oleh Gubernur Basuki Cahya Purnama di pulau seribu. Namun jauh sebelum itu. Adanya berbagai macam penistaan terhadap Islam, sejatinya muncul sebagai konsekuensi logis dari kesepakatan menerapkan sistem demokrasi sekuler dan nilai-nilai pokok yang lazim ada didalamnya, seperti hak asasi manusia dan kebebasan. Ya, masalah demi masalah muncul sejak “kekalahan” umat Islam mempertahankan penerapan syariat Islam dalam kehidupan.

Karena sejatinya, saat sistem demokrasi sekuler diterapkan, konsekuensi logisnya adalah membolehkan siapapun menjadi pemimpin asalkan dianggap memiliki kemampuan. Apakah itu perempuan ataupun non-muslim, ustadz ataupun preman. Memang ada peluang ustadz naik menjadi pemimpin, namun jangan lupa ada peluang juga orang kafir menjadi pemimpin. Padahal secara keyakinan, seorang muslim tidak boleh memilih pemimpin kafir dan dipimpin oleh orang kafir, karena tetap harus menerapkan aturan Islam dalam kehidupan. Bagaimana mungkin, aturan Islam akan dijalankan oleh orang yang tidak meyakini Islam? 

Ketika ustadz naik menjadi pemimpin pun, beliau akan susah bergerak. Karena ada nilai-nilai yang dijaga kuat dimasyarakat yang seakan tidak boleh dilanggar, bahkan dianggap lebih sakral dari agama itu sendiri. Seperti hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, kebebasan memiliki, kesetaraan gender dan yang lainnya. Jadi selama ustadz memimpin, akan ada resistensi dari masyarakat ketika menabrak paham-paham tersebut. Semisal ustadz yang menjadi pemimpin ingin melakukan qishos (hukum membunuh bagi pelaku pembunuhan), dianggap tidak boleh dilakukan oleh kebanyakan masyarakat karena bertentangan dengan hak asasi manusia. Contoh lain, jika ustadz pemimpin ingin melarang adanya diskotek, akan ditolak karena alasan aspek manfaat dari tempat hiburan malam tersebut, lagi pula sudah ada aturan terkait pembatasan minimal umur serta libur saat bulan Ramadhan. Itulah dilema-dilema yang akan dihadapi oleh ustadz yang menjadi pemimpin dalam sistem kehidupan saat ini.

Kaos Islami Keren Aksi 212
Kaos Islami Tema Solusi Islam - Cocok Untuk Aksi 212
Balik lagi ke kasus ahok (maaf kaos islami kerennya belum dibahas, he he), semenjak Gubernur Jokowi mengajak Ahok menjadi wakilnya saat pemilihan Gubernur Jakarta, sudah banyak yang akan memprediksi mantan walikota Solo ini akan diorbitkan menjadi Presiden Indonesia. Mengingat tayangan di media yang semakin masif yang mencitrakan kehebatannya. Dan konsekuensinya Jakarta akan dipimpin oleh seorang non muslim. Dan itulah yang terjadi saat ini. Masalah muncul kembali saat sang petahana ingin maju kembali menjadi calon gubernur periode 2017 – 2022.

Awalnya tak banyak dari kalangan umat Islam yang menolak pencalonan Ahok, hal tersebut terjadi karena mengakar kuatnya pemikiran bahwa siapapun tak masalah jadi pemimpin, asalkan memiliki kemampuan. Ulama masih belum bergerak. Awal muasal geliat perlawanan umat Islam muncul dari organisasi politik Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melakukan aksi menghimpun sekitar 20 ribuan masa untuk melakukan kampanya tolak pemimpin kafir. Gayung pun disambut oleh Ahok, media dibaliknya serta tim cyber jasmev. Hingga akhirnya muncul beberapa komentar khas Ahok dimedia yang menjadikan masalah tersebut viral. Terlebih setelah Ahok mengomentari sebuah testimoni penolakan pemimpin kafir oleh mahasiswa UI yang aktif di Gema Pembebasan.

Tak disangka, berbagai bully-an dari media pro Ahok dan jasmev. Malah membuat isu ini semakin membesar. Entah kalap atau kenapa, munculah video penistaan Al Quran di kepulauan Seribu oleh Ahok. Yang kemudian membuat para Ulama bangkit hingga MUI mengeluarkan fatwa bahwa perkataan Ahok menistakan Al Quran, sehingga ummat memiliki alasan yang kuat untuk bangkit. Sampai disini isu yang bergulir sudah berubah, bukan lagi tolak pemimin kafir dan sistemnya. Namun kearah hukum penista Al Quran. Diawali dengan aksi pertama pada 14 Oktober 2016 yang tidak digubris. Akhirnya FPI dan berbagai elemen umat menggalang aksi yang lebih besar pada 4 November 2016, yang kemudian dikenal dengan aksi 411. Tak kurang 2 juta lebih umat Islam turun kejalan meminta penghina Al Quran untuk dihukum. Jumlah yang sangat besar untuk kondisi masyarakat seperti saat ini.


Kisah Lanjutan – Sebuah Ujian Kesabaran Umat Islam
Cerita tidak berhenti sampai disitu, Allah ingin menguji kesabaran dan keikhlasan umat ini dalam memperjuangkan dienul Islam ini. Saat aksi tersebut berlangsung, entah apa yang ada dibenak Presiden Jokowi, dia malah pergi meninjau proyek bandara dan tidak menemui perwakilan dari Ulama, beda jauh saat kampanye presiden. Mendekati ulama dan umat islam untuk mencari simpati dan dukungan. Hal yang sangat menyakitkan bagi umat Islam. Tak hanya itu, adanya alasan tidak bisa hadir karena terhalang banyaknya massa juga serasa tidak masuk akal, mengingat negara ini cukup kaya untuk membeli helikopter yang bisa digunakan untuk mengangkut Presiden ke Istana Negara.

Terlepas dari insiden “penyerangan“ terhadap para ulama pada aksi tersebut. Yang jelas upaya kaum muslimin di ekstra parlemen tersebut telah mejadi daya dobrak yang cukup berarti. Proses hukum terhadap Gubernur Basuki berlanjut dan kemudian ditetapkan menjadi tersangka. Meski begitu, umat masih sadar, bahwa status tersangka masih sangat mungkin untuk dibebaskan sambil mengulur waktu. Proses pemeriksaan masih berjalan dan “perang” opini di dunia maya pun masih berlanjut. Bahkan opini digulirkan oleh pejabat negara juga. Seperti dalam bebarapa kesempatan Kapolri Tito Karnavian mengingatkan akan bahaya makar di ancaman ditunggangi gerakan khilafah. Jelas ini upaya pengalihan isu yang berlebihan. Meskipun benar adanya gerakan yang memperjuangkan khilafah dalam negara ini, hal tersebut adalah reaksi wajar dari umat Islam yang ingin menerapkan aturan kehidupan berdasarkan aturan agamanya. Mengingat kehidupan yang berlandaskan sekulerisme saat ini meniadakan peran agama dalam masalah kehidupan.

Karena proses yang terkesan lambat. Akhirnya GNPF – MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – Majelis Ulama Indonesia) secara resmi mengumumkan akan mengadakan aksi lanjutan pada 2 Desember 2016 (atau aksi 212). Insyaa Allah aksi tersebut akan dilaksanakan pada hari Jumat dan diisi dengan sholat Jumat bersama di lapangan Monas serta istighosah. Upaya kembali menguatkan komitmen umat Islam untuk menuntut hukuman bagi penista Al Quran.

Kaos Islami Keren Untuk Aksi 212
Dari panitia, saran pakaian yang dipakai adalah putih-putih. Namun tidak ada salahnya menggunkan kaos dakwah pada acara tersebut. Selain dipakai untuk menurup aurat, juga sebagai sarana menyebarkan ide kesegenap kaum muslimin yang hadir pada kegiatan tersebut. Namun tentu tema yang diusung oleh kaos islami keren untuk aksi 212 harus cocok. Jangan sampai memakai kaos muslim dengan tema menikah dan anti pacaran pada kegiatan tersebut. He he. 

Beberapa orang sudah membuat kaos yang bertuliskan Al Maidah 51, sebagai tanda ayat yang dinistakan oleh Ahok dan ayat yang harus dibela kehormatannya oleh umat Islam. Disini kami mencoba memaparkan hal yang lebih mendasar dari itu semua. Yaitu, berbagai perlakuan semena-mena terhadap umat Islam serta problem-problemnya itu terjadi karena ketiadaan Islam dalam mengatur kehidupan. Maka tawaran kami kepada segenap umat Islam adalah “Islam is the only solution of Life”. Islam adalah satu-satunya solusi kehidupan.

Kaos Dakwah Islam Solusi Kehidupan
Kaos Dakwah Islam Solusi Kehidupan

Ahok bisa jadi suatu saat dipenjara dengan izin Allah. Namun selama kehidupan masih memakai sistem kapitalisme. Sangat mungkin muncul penghina-penghina Islam yang lainnya. Selain itu, kami juga coba menyampaikan dengan lembut, bisa jadi kitalah (umat Islam) yang menistakan Al Quran. Kenapa? Karena kita tidak mau menerapkan hukum Al Quran dalam kehidupan. Naudzubillah min dzalik. Padahal implementasi Al Quran dalam kehidupan adalah hal yang wajib. Dari sini jadi penting bagi kita agar mendorong “keberanian” umat dan ulama-ulaman untuk menyerukan penerapan aturan Islam dalam kehidupan. Agar jangan sampai dihadapan Allah kelak, kita dihitung sebagai orang yang menistakan Al Quran karena mecampakkan aturan yang ada di dalamnya. Wallahu alam bishowab.

Komentar