Mari Lindungi Generasi dari Gerakan Politik Global LGBT

Tak hanya merangsek dalam pergerakan kultural, LGBT telah bermutasi menjadi gerakan politik global. Pasalnya sejak dimulai pertama kali pelegalan pernikahan sesama jenis tahun 2001 oleh Belanda, menyusul kemudian negeri-negeri Barat lainnya seperti Belgia, Spanyol, Kanada, AS, Australia dan lain-lain. Naasnya hak-hak mereka juga telah diakui oleh PBB sejak 2008. Dan sekarang, gerakan minor ini mulai dipaksakan masuk ke negeri-negeri muslim. Dalam Laporan Being LGBT in Asia : Indonesia Country Report yang disponsori UNDP dan USAID (2014) terdapat rekomendasi kepada pemerintah Indonesia untuk memprioritaskan peninjauan ulang semua kebijakan Negara (termasuk peraturan-peraturan daerah) yang mengkriminalisasi dan mendiskriminasikan LGBT.

DIY termasuk wilayah yang patut waspada. Bilamana tidak, banyaknya pendatang (baik dari luar daerah maupun luar negeri) ditambah budaya permisif telah menjadikan Jogja sangat asertif dengan berbagai nilai. Bahkan pada tahun 2006, The Yogyakarta Prinsiples –dokumen pro LGBT skala internasional- lahir di Jogja. Branding kota inklusif agaknya menjadi boomerang bagi wilayah yang sangat lekat dengan peradaban Islam di masa lampau ini. Atas nama marginalitas & HAM, Kaum LGBT Jogja ada & terus bergerak untuk mendapatkan pengakuan & pemenuhan hak. Sebutlah organisasi People Like Us Satu Hati (PLUSH), Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo), Youth Forum dan pesantren waria al-Fatah ada dan bertumbuh.  Atas nama objektivitas akademik, tak sedikit penelitian yang mengabaikan sudut pandang agama dan justru menjadi corong legalisasi eksistensi LGBT. Narasi Inklusivisme ini juga dijadikan sebagai jerat kultural bagi generasi muda muslim untuk bisa menerima maksiat besar ini dan kian jauh dari ideologi Islam. Sebaliknya, stigmatisasi eksklusif, berpikiran sempit, radikal, dan intoleran kerap digunakan sebagai alat untuk menghadang perjuangan generasi muda melawan segala bentuk kemaksiatan. 

Mari Lindungi Generasi dari Gerakan Politik Global LGBT

Diam berarti bencana. Pertempuran politik dan friksi pemikiran antara yang haq dan batil tak terelakkan lagi. Tak boleh dibiarkan, harus dilawan. Penguatan Islam ideologis di tengah umat –terutama kaum muda- harus terus dihidupkan. Hal ini karena sejatinya Islam lah satu-satunya agama sekaligus ideologi yang sesuai fitrah dan mampu membawa kehidupan bermartabat bagi manusia. Pemuda muslim haruslah militan dan cerdas mengawal umat -termasuk pemangku kebijakan- dari setiap nilai destruktif yang membahayakan negeri dan mengundang murka Allah Rabb semesta alam.

Nabi saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَةَ بِعَمَلِ الْخَاصَةِ حَتَّى يَرَوْا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانِيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُوْنَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوْهُ فَلاَ يُنْكِرُوْهُ فَإِذَا فَعَلُوْا ذَلِكَ عَذَّبَ اللهُ الْعَامَةَ وَالْخَاصَةَ»

Sesungguhnya Allah tidak akan menyiksa masyarakat umum karena perbuatan orang-orang tertentu hingga masyarakat umum melihat kemungkaran di hadapan mereka sedang mereka mampu mengingkarinya tetapi mereka tidak mengingkarinya. Jika mereka berbuat demikian maka Allah akan menyiksa masyarakat umum dan orang-orang tertentu itu. (HR Ahmad dan ath-Thabrani).

Komentar

  1. Benar, kerusakan sudah terjadi dimana-mana. Saatnya umat bergerak memilih aturan terbaik.

    BalasHapus

Posting Komentar