NUN, Sebuah Puisi Untuk Aleppo

Kondisi Aleppo di Suriah (Syam) sungguh mengkhawatirkan kita sebagai umat Islam. Bagaimana tidak, melihat saudara kita diperlakukan seperti itu tentu kita tidak ridho. Cara yang cukup elegan dilakukan oleh salah seorang seniman dari Pontianak. Beliau membuat puisi untuk Aleppo yang mendalam. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.

Ilustrasi Aleppo, oleh Andi Qutuz Leonidaz

NUN
Puisi oleh: Pay Jarot Sujarwo

nak, waktu umurmu belum dua bulan, ada bau mesiu yang terhidang
di meja makan kosong. tentu saja meja makan itu berselimut
debu bekas puing dan si empu rumah sudah tak lagi memikirkan
kapan terakhir kali sarapan. nun, di sebuah tanah yang penuh berkah.

nak, waktu mulutmu berjuang menggapai-gapai tetek ibumu, ada rindu
akan gelak tawa dari seorang duda yang baru saja ditinggal mati
anak dan istrinya. tak lama setelah itu, tetangganya juga mati, kawan
kerjanya pun mati, orang-orang sekitar begitu akrab dengan
kematian. waktu mulutmu gagal meraih tetek ibumu, nak, tangismu
begitu lantang. nun, di tempat bermukimnya sejarah kegemilangan
itu, orang-orang memilih mati daripada menangis.

nak, nanti kau besar.
nanti kau menonton tv.
nanti kau membaca majalah.
nanti kau internetan.
nanti kau bertanya ini itu, menjawab ini itu.
tentu saja ibumu akan menjadi orang pertama
yang memperkenalkanmu dengan buku-buku.
satu ilmu dapat dua ilmu dapat tiga ilmu dapat empat ilmu dapat
terus menerus

nak, orang-orang di sana memanggil.
mereka, ya, mereka
yang lupa kapan terakhir sarapan
yang akrab dengan kematian
sekarang ada jarak antara kita dan mereka
pemenang perang mengerat-kerat tanah menjadi batas-batas negara bangsa

aleppo, nak. sekarang mereka berada di aleppo
luluh lantak waktu usiamu belum dua bulan.
tapi kau harus tau, nak, mereka itu saudaramu
akidah kalian sama
nanti, negara kalian juga sama
bendera yang berkibar juga sama
di bendera itu, tertera kalimat tauhid
yang setiap hari tak lelah kubisikkan di telingamu

Pontianak, 2016

Komentar