Menjadikan Kaos Dakwah Sebagai Kaos Khas Jogja. Mungkinkah?

Menjadikan kaos dakwah sebagai kaos khas Jogja. Agaknya hal tersebut terlihat susah untuk kondisi saat ini. Namun tulisan ini bukan untuk memposisikan diri layaknya ramalan. Bukan. Tulisan ini dibuat sebagai analisa subyektif dari penulis. Jika suatu saat benar-benar terjadi, itu semata-mata karena ketetapan dari Sang Pencipta. Perlu dipahami dengan seksama.

Jogja memang kaya akan komunitas kreatif. Mulai dari kegiatan dakwah Islam, seni budaya, musik, lukis hingga seni peran. Banyak karya besar lahir dari tangan dingin pekerja seni di Jogja. Apa yang teringat ketika bicara tentang Jogja? Ya, tentu saja Gudeg, Malioboro, Kraton. Dalam dunia fashion tentu sahabat mengenal batik dan kaos oblong Dagadu. Batik menjadi sesuatu yang khas dari Jogja karena memang sudah menjadi tradisi turun temurun. Sedangkan kaos oblong Dagadu, ter-branding sebagai kaos khas Jogja karena kerja keras dan cerdas dari para pendirinya. Sesuatu yang bisa diduplikasi. Terutama oleh para pelaku kaos dakwah, jika jeli melihat peluang ini.

Jika kita melihat daerah lain. Bali misalnya, kita juga akan menemukan bahwa disana juga ada kaos khas Bali. Joger kan ya? Nama tersebut banyak melekat kuat dalam benak kita. Apakah Joger merupakan tradisi turun temurun? Bukan tentunya. Namun brand yang kuat dari Joger seakan memaksa kita untuk mengakui bahwa Joger adalah produk khas dari Bali. Penulis memiliki keyakinan, sebuah sukses yang pernah dicapai oleh brand lain, bisa diduplikasi oleh orang lain juga. Dalam kesempatan ini penulis ingin membincangkan upaya menjadikan kaos dakwah sebagai kaos khas Jogja.

Dari segi sumber daya manusia (SDM) pekerja seni muslim di Jogja, jumlah yang ada lebih dari kata cukup. Saat tulisan ini dibuat (April 2016), masih ada komunitas MDC(Muslim Designer Community) chapter Jogja. MDC merupakan komunitas desainer muslim di Indonesia. Sehingga bukan sebuah halangan bagi brand-brand kaos dakwah untuk berkarya membuat kaos dengan macam corak dan gaya yang ada. Sebagai bukti, pada saat ini (April 2016) sudah ada lebih dari 5 brand kaos dakwah yang ada di Jogja yang penulis ketahui. Sebuah potensi yang bisa menjadi entry point menjadikan kaos dakwah sebagai kaos khas Jogja.

Penggiat Kaos Dakwah berfoto dengan David Chalik - doc Naidu Clothing
Menurut hemat penulis, perlu upaya branding bersama dari setiap brand kaos dakwah dari Jogja. Dengan penyatuan branding secara global tersebut, diharapkan para pelanggan kaos dakwah akan lebih tertanam persepsi bahwa ini adalah kaos khas yang juga dari Jogja. Dengan begitu, disamping orang mengenal setiap brand dengan keunikan tersendiri. Tiap brand  memposisikan dirinya sebagai kaos dakwah khas dari Jogja. Memang jogja kota yang multikultur, sangat heterogen. Namun jangan lupa, Jogja masih merupakan bagian dari Indonesia, yang mana mayoritas penduduknya masih muslim. Bukan hal yang mustahil mempersepsikan pada umat Islam di Indonesia bahwa kaos dakwah merupakan salah satu kaos khas Jogja juga.

Tulisan ini hanyalah sebagai brainstorming awal. Diantara pembaca bisa jadi punya pendapat dan saran untuk merealisasikan kaos dakwah sebagai kaos khas Jogja ini. Kami tunggu partisipasinya dalam komentar. Jazakumullah khairan katsir.. [igeno]

Komentar